Hubungan Seksual di Bulan Ramadhan - Kickstory

Latest

Just Another View With A DSLR

Friday, July 18, 2014

Hubungan Seksual di Bulan Ramadhan


✔ Masuk waktu subuh dalam keadaan junub
Ini adalah khusus bagi suami isteri yang berjima’ pada malam hari atau bagi sesiapa yang bermimpi dan dia masuk waktu pagi dalam keadaan belum mandi wajib. Berkata Aisyah dan Ummu Salamah RA,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ
Ertinya: “Rasulullah SAW pernah memasuki waktu fajar (subuh) dalam keadaan junub kerana bersetubuh dengan istrinya, kemudian baginda mandi dan berpuasa.” (riwayat Imam Al Bukhari no. 1926)
✔ Bermesra dan mengucup isteri
Perkara ini berlaku pada zaman sahabat Nabi RA, di mana isteri seorang sahabat bertemu dengan Aisyah RA mengadukan bahawasanya suaminya tidak mahu duduk dekat dengannya pada bulan puasa. Apabila ditanya mengapa, jawabnya kerana ini bulan puasa dan dibimbangi berlaku perkara yang membatalkan puasa. Jadi si isteri kecewa dan merasa seolah-olah bulan Ramadhan menjadikan rumahtangga mereka menjadi dingin. Kata Aisyah RA,
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقبل وهو صائم ويباشر وهو صائم ولكنه أملككم لإربه
Ertinya: “Rasulullah SAW pernah mencium dan bercumbu ketika baginda sedang berpuasa. Namun baginda adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya di antara kalian.” (riwayat Al-Bukhari no. 1927 dan Muslim no. 1106)
Seorang sahabat berkata, “Bukankah Allah telah mengampuni dosa Rasulullah yang terdahulu dan yang akan datang?” Baginda SAW bersabda: “Ketahuilah demi Allah, sesungguhnya aku lebih bertaqwa kepada Allah dari kalian dan lebih takut kepada Allah dari kalian.” (riwayat Muslim)
Ini menunjukkan satu keharusan bergurau senda di antara suami dan isteri di dalam bulan Ramadhan Al Mubarak.
✔ Melakukan Hubungan Seksual dengan Sengaja, Hubungan seksual baik dilakukan pasangan suami isteri atau bukan dapat menyebabkan batalnya puasa dengan ketentuan melakukannya dalam keadaan sadar dan sengaja. Suatu perbuatan dapat dikatakan hubungan seksual dengan batas minimal masuknya khasafah ke dalam farji (vagina), dan apabila kurang dari itu maka tidak dikatagorikan hubungan seksual dan tidak membatalkan puasa.
Barang siapa melakukan hubunngan seksual dengan sengaja pada saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan, sedangkan malam harinya ia berniat menjalankan puasa, maka orang tersebut berdosa dengan alasan telah merusak ibadah puasa, oleh karena itu ia diwajibkan untuk mengqadla dan membayar kifarat (memerdekakan budak perempuan mu’min) sebagai hukumnya.
Jika tidak menemukan seorang budak untuk dimerdekakan atau tidak mampu untuk memerdekakannya dari segi pembiayaan, maka menggantinya dengan berpuasa dua bulan secara berurut-urut di bulan selain bulan Ramadhan, dan apabila ia tidak mampu juga maka diwajibkan membayar fidyah untuk 60 orang fakir atau miskin. Dan bagi tiap-tiap orang miskin mendapatkan satu mud dari makanan yang mencukupi untuk zakat fitrah.
Apabila ia tidak mampu semuanya, maka kafarat tersebut tidak gugur dan tetap menjadi tanggungannya. Dan pada saat ia ada kemampuan untuk membayar dengan cara mencicil, maka lakukan saja dengan segera.
جَاءَ رَجُلٌ اِلَى النَّبِى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: هَلَكْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قَالَ: وَمَا اَهْلَكَكَ قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَاَتِى فِى رَمَضَانَ قَالَ: هَلْ تَجِدُ مَاتُعْتِقُ رَقَبَةً قَالَ:لَا،قَالَ: هَلْ تَسْتَطِيْعُ اَنْ تَصُوْمَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ: لَا،قَالَ:هَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا قَالَ:لَا،ثُمَّ جَلَسَ فَاُءتِيَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيْهِ تَمْرٌ قَالَ: تَصَدَّقْ بِهَذَاقَالَ: فَهَلْ اَعْلَى اَفْقَرَ مِنَّا؟ فَوَاللهِ مَا بَيْنَ لَا بَتَيْهَا اَهْلُ بَيْتٍ اَحْوَجُ اِلَيْهِ مِنَّا فَضَحِكَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ اَنْيَابُهُ وَقَالَ:اذْهَبْ فَاطْعِمْهُ اَهْلَكَ
Dari Abu Hurairah r.a, menceritakan, seorang pria dating kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: “celaka aku wahai Rasulullah”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bertanya: “apa yang mencelakakanmu?”, pria itu menjawab: “aku telah bercampur dengan isteriku pada bulan Ramadhan”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menjawab: “mampukah kamu memerdekakan seorang budak?”, ia menjawab: “tidak”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, betanya padanya: “mampukah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?”, pria itu menjawab: “tidak mampu”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bertanya lagi: apakah kamu memiliki makanan untuk member makan enam puluh orang miskin?”, ia menjawab; “tidak”, kemudian pria itu duduk. Lalu Nabi diberi satu keranjang besar berisi kurma, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berkata kepadanya : “bersedekahlah dengan kurma ini”. Pria itu bertanya: “Apakah ada orang yang lebih membutuhkan dari kami?, tidak ada keluarga yang lebih membutuhkan kurma ini selain dari keluarga kami”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. tertawa, sehingga terliuat gigi taringnya, dan Beliau bersabda: “kembalilah ke rumahmu dan berikan kurma itu pada keluargamu”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1800 dan Muslim: 1870).

print this page Print this page

No comments:

Post a Comment